Top 10 Books I Read in 2015


Kalau di blog saya yang satunya, saya sudah sering membuat sejumlah lagu terbaik yang dirilis pada tahun 2015, saya tiba-tiba kepikiran kenapa saya enggak bikin hal serupa untuk sejumlah buku yang saya baca sepanjang tahun ini. Lagi pula, buku--sama seperti musik--adalah udara buat saya, yang saya enggak bisa hidup tanpanya. Yaelah. 

Sepanjang tahun ini, saya sudah membaca 57 buah buku dan saya pikir ini bakalan mudah buat memilih sepuluh buku terbaik saja yang saya baca sepanjang tahun ini. Tapi enggak juga karena bacaan saya sepanjang tahun ini sangat beragam, dan lumayan banyak buku yang menjadi kandidat bacaan favorit saya. Tapi, yah, bagaimanapun juga, daftar harus tetap dibuat. So here we go--in particular order--here are my top 10 books I read in 2015.

1. All The Bright Places - Jennifer Niven

Dalam buku debut yang menyedihkan dan indah ini, Niven bercerita mengenai kehilangan, rasa bersalah, rasa sakit, dan cinta. All The Bright Place memperkenalkan dua orang remaja yang masing-masing harus merasakan beban yang melebihi yang sanggup mereka pikul. Violet harus menanggung rasa bersalah yang hebat karena ia merasa ialah yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menewaskan kakaknya. Sementara Finch, yang selalu tertarik dengan bunuh diri, terpaksa masalah keluarga yang menimpanya sambil menghadapi penyakit yang ia derita. Ketika Finch menyelamatkan Violet yang hendak bunuh diri di menara sekolah, mereka tak akan pernah menyangka itu adalah bahwa mereka berdua ternyata saling membutuhkan satu sama lain. Namun, Finch menghilang begitu saja. 

Ditulis dengan sangat cantik, All The Bright Places merupakan young adult yang cukup gelap--meskipun sampul depannya sangat ceria. Niven menceritakan beratnya menjadi seorang remaja dengan sangat baik meskipun pace cerita awal cukup lambat. Namun, Violet dan Finch memiliki chemistry yang sangat bagus, membuat keduanya menjadi karakter yang hidup dan serasi, membuat mustahil untuk tidak menangis di akhir cerita. You have been warned

2. The Martian - Andy Weir

The Martian mungkin merupakan buku yang paling nge-hip sepanjang tahun 2014 lalu. Dengan premis cerita yang sangat grandiose serta lisensi film yang sudah dibeli dan akan dirilis bulan Oktober nanti, The Martian menciptakan sejumlah hype yang barangkali tak pernah Weir bayangkan saat ia menerbitkan buku ini secara indie pada tahun 2011. Namun, The Martian memang pantas menerima hype yang diperolehnya. The Martian menceritakan seorang kosmonot bernama Mark Watney yang secara tidak sengaja terdampar di planet Mars setelah para kru lainnya dalam misi yang diembannya harus membatalkan misi setelah adanya badai pasir. Mark harus berjuang untuk bertahan hidup meskipun planet merah seakan-akan berkomplot untuk menggagalkan setiap rencana yang ia buat.

Heavily researched, The Martian berada dalam daftar terakhir buku yang sanggup membuat orang menangis. Tapi saya menangis. Saya menangis karena buku ini benar-benar luar biasa. The Martian tidak hanya mengangkat tema survival science fiction dengan narasi yang sangat teknis dan ilmiah, tetapi juga mengenai perjuangan umat manusia serta kesendirian. Membaca The Martian terasa seperti menonton Interstellar, terutama ketika kita menyadari betapa kita sendirian di alam semesta yang begitu masif dan besar ini. 

3. We All Looked Up - Tommy Wallach

Eskatalogi--tak peduli betapa seram dan menakutkannya topik ini--merupakan topik yang sebisa mungkin saya hindari, tetapi pada akhirnya saya tidak bisa menyangkal saya tidak menyukainya. Bagaimanapun juga, pada akhirnya dunia akan berakhir. Saat Wallach menggabungkan dua hal favorit saya: young adult dan eskatalogi menjadi satu buku, saya tidak bisa tidak bergairah. We All Looked Up ini menjadi percampuran dua subgenre buku yang saya sukai, dan hasilnya tidak mengecewakan. Saat sebuah asteroid hendak menabrak Bumi dan para ilmuwan memperkirakan akhir dunia, rencana Peter, Eliza, Andy, dan Anita setelah lulus SMA menjadi hancur berantakan. Namun, mungkin ada sisi terang dari bencana ini. Mungkin permasalahan mereka bisa berakhir. Kehampaan Peter, ketidakpastian masa depan Andy, masalah keluarga Eliza, dan juga rasa takut Anita. Ketika mereka berempat saling bertemu, mereka mulai belajar mengenai arti kehidupan dan kematian yang sebenarnya. 

Saat masyarakat dibanjiri dengan cerita post apocalypse yang suram dan gelap, We All Looked Up sendiri menceritakan masa pre apocalypse sesaat sebelum kiamat terjadi. Hasilnya, sesungguhnya tak jauh berbeda. Tatanan kemasyarakatan yang mulai berantakan serta egoisme manusia juga bisa saja terjadi. Namun, meski demikian, adanya harapan akan hari esok seperti menjadi rem untuk tidak melakukan sesuatu hal yang di luar batas. Itu pula yang dirasakan oleh para karakter di buku ini yang menghadapi sesuatu yang tidak ingin mereka hadapi. Mereka masih begitu muda. Mereka masih ingin menjelajah dunia. Mereka tak ingin dunia berakhir. Wallach membuat karakter yang begitu manusiawi dan remaja, membuat pengalaman membaca We All Looked Up terasa sangat menyenangkan. Open ending yang dibuat seakan menjadi harapan akan apa yang terjadi dengan para karakter ini nantinya. 

4. Steelheart - Brandon Sanderson 

Brandon Sanderson tidak pernah mengecewakan. Tentu saja Steelheart juga tidak mengecewakan. Seakan-akan sudah menjadi trademark Sanderson untuk membuat sebuah cerita fantasi dengan selipan misteri, Sanderson sekali lagi berhasil membuat masterpiece berjudul Steelheart. Saat Calamity muncul sepuluh tahun yang lalu, tiba-tiba saja orang-orang memiliki kemampuan super. Mereka disebut Epics. Namun, tidak seperti yang orang-orang sangka, para Epics ternyata pembawa kehancuran, menghancurkan dunia dengan kemampuan yang mereka miliki dan merusak segala tatanan yang ada. Ayah David dibunuh oleh seorang Epic bernama Steelheart. David menuntut pembalasan. David bertekad untuk bergabung ke Reckoners, satu-satunya kelompok pemberontak yang mampu melawan para Epics. Namun, membunuh Epics bukan perkara mudah. Mereka hanya memiliki satu kelemahan. 

Sepertinya Sanderson menyadari bahwa ada masa ketika orang-orang pasti mendambakan kekuatan super. Namun, ia memberi twist pada hal tersebut, menciptakan karakter Epics yang menyeramkan dan mematikan. Namun, Epics sebenarnya tidak sesederhana itu. Ada penyebab mengapa hanya orang tertentu yang mendapat kekuatan. Ada alasan mengapa kelemahan masing-masing Epic begitu random. Itu yang membuat buku-buku Sanderson menjadi begitu kaya dan berlapis-lapis. 

5. Golden Sun - Pierce Brown

Golden Sun jelas-jelas lebih sadis--dan jauh lebih superior--dari buku pertamanya, Red Rising. Di buku ini, Brown masih mampu menjaga momentum Red Rising, dan secara mengejutkan meningkatkannya dengan memberi twist yang sangat sadis di akhir cerita. Golden Sun juga masih seru dan mendebarkan dengan petualangan dan kisah Darrow untuk memperjuangkan kesetaraan kaum merah. 

6. Rust In Pieces - Nel Falisha

Sebenarnya mudah membuat saya memberikan rating tinggi untuk buku di Goodreads. Cukup membuat cerita dengan plot yang baik, karakter yang menyenangkan, dan kalimat yang mudah dipahami. Nel Falisha mengetahui rahasia saya. Rust In Pieces ini benar-benar seperti angin segar di dunia young adult Indonesia meskipun ide cerita mengenai kleptomania sudah sering digunakan. Namun, Nel mengompensasinya dengan plot yang bagus, riset yang memadai, dan karakter yang luar biasa menyenangkan. Hasilnya, Rust In Pieces merupakan salah satu buku yang saya suka sepanjang tahun ini. 

7. My Heart and Other Black Holes - Jasmine Warga

Ini young adult terbaik sepanjang tahun ini. My Heart and Other Black Holes menambah daftar panjang dari suicide literature yang diterbitkan tahun ini, tetapi buku ini yang terbaik. Tulisan Warga yang sederhana dan langsung pada intinya tidak membuat buku ini kekurangan kalimat yang indah. Karakter yang lucu dan menggemaskan serta interaksi mereka berdua juga nilai plus buku ini. 

8. The Wrong Side of Right - Jenn Marie Thorne

The Wrong Side of Right mengangkat tema yang tidak biasa serta memberikan gambaran bagaimana kehidupan seorang senator yang sedang mencalonkan diri sebagai seorang presiden Amerika Serikat. The Wrong Side of Right mengangkat masalah keluarga serta menunjukkan bahwa seorang senator pun juga memiliki masalah keluarga, sama seperti keluarga-keluarga lainnya. 

9. Animal Farm - George Orwell

Animal Farm barangkali tipis dan terlihat seperti fabel anak-anak. Namun, Animal Farm tidaklah ringan. Sekali lagi Orwell menyindir para penguasa dunia dengan menyamakan mereka seperti hewan peternakan. Dengan berani, Orwell menyuarakan kritikan dan komentarnya dalam sebuah alegori berjudul Animal Farm ini. Dengan ide kritikan mengenai pengawasan serta kediktatoran dari suatu pemerintahan, Animal Farm dan 1984 haruslah dibaca beriringan.

10. The Silkworm - Robert Galbraith

Somehow, membaca The Silkworm benar-benar mengingatkan saya akan Harry Potter. Gaya narasi Galbraith--atau Rowling--atau siapa pun lah--yang detail serta sejumlah red herring yang digunakan untuk mengalihkan perhatian pembaca sudah menjadi ciri khas Rowling. The Silkworm sekali lagi berhasil menjadi salah satu novel detektif yang seru dan twisted

Honorable Mention

11. Annihilation - Jeff VanderMeer 

12. Forgive Me, Leonard Peacock - Matthew Quick


13. Twisted - Laurie Halse Anderson


Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Peri Hutan
AUTHOR
2 September 2015 19.49 delete

Yeay, akhirnya punya blog buku juga, ayo gabung bareng BBI :)

Reply
avatar
Daniel Dian
AUTHOR
2 September 2015 23.54 delete

haha... udah kirim email dan udah dapet tanggapannya, sih, kak, tapi kayaknya masih ada di masa probation haha :D

Reply
avatar