Happiness oleh Fakhrisina Amalia

Fakhrisina Amalia
Happiness
Ice Cube Publishing
8.5 (Best New Book)

Blurb
“Berarti nggak masalah, dong, kalau Ceria masuk MIPA tapi ambil Biologi?”

“Bisa aja, sih. Tapi kalau kamu tanya Mama, yang banyak hitung-hitungannya itu lebih spesial. Nggak sembarang orang bisa, kan?”


Bagi Mama yang seorang dosen Matematika, hitung-hitungan itu spesial. Mama selalu membanding-bandingkan nilai rapor Ceria dengan Reina—anak tetangga sebelah yang pandai Matematika—tanpa melihat nilai Bahasa Inggris Ceria yang sempurna. Karena itu, sepanjang hidupnya Ceria memaksakan diri untuk menjadi seperti Reina. Agar Mama dan Papa bangga. Agar ia tak perlu lagi dibayang-bayangi kesuksesan Reina. Agar hidupnya bahagia. Ceria bahkan memilih berkuliah di jurusan Matematika tanpa menyadari ia telah melepaskan sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Sesuatu yang membuat dirinya benar-benar bahagia.

Review
Wkwkwk... the pretentious Pitchfork-esque review is back yay! 

Happiness memiliki premis cerita yang sangat relatable dengan segelintir mahasiswa, termasuk saya: salah jurusan. Semasa saya SMA dulu, saya sudah mempunyai target untuk masuk ke Teknik Kimia, tetapi kebetulan karena tahun saya SMA merupakan tahun pertama kalinya dibuka jalur undangan, karena adanya satu dan lain sebab, saya tidak memilih fakultas yang ada jurusan Teknik Kimia-nya, tetapi ke fakultas saya yang sekarang yang memuat Teknik Elektro. Kebetulan kalau di kampus saya, semua mahasiswa baru masuk ke fakultas dulu dan belum memilih jurusan. Sebenernya ada sedikit andil orang tua saya sampai saya memutuskan buat pindah fakultas, tapi memang sebagian besar saya sendiri yang memutuskan. Yah, hasilnya adalah orang-orang macam saya ini. Lulus dari jurusan yang tidak diinginkan, dan sebisa mungkin mencari pekerjaan yang tidak berkaitan dengan bidang yang saya geluti selama bertahun-tahun. 

That's why Ceria karakter yang benar-benar nyambung buat saya. Dengan segala kegundahan dan kekhawatirannya, Ceria, menurut saya, seorang karakter yang benar-benar nyata dan real. 

Happiness is indeed far more superior than Amalia's previous work that I've readAll You Need is Love. Happiness menampilkan masalah remaja yang lebih nyata dan berkaitan secara langsung dengan dunia remaja saat ini. Amalia dengan sukses menangkap keragu-raguan, kecemasan, dan ketakutan remaja akan masa depan, sekaligus perjuangan seorang remaja untuk terus membuat bangga kedua orang tuanya, menjadikan Happiness sebuah buku young adult dengan plot seperti roller-coaster yang meliuk-liuk. Saya merasa senang sekali membaca dan mengikuti cerita Ceria ini--karena surprisingly Ceria ini mirip sekali dengan apa yang saya alami dulu (dan mungkin sampai sekarang). Dan saya yakin, masih banyak Ceria lain di luar sana yang merasa demikian. Damn, even Ceria's competitive spirit is eerily similar with mine. Tanya teman-teman saya, dan mereka akan mengamini betapa kompetitifnya saya ini. 

Itu sebabnya mengapa Happiness juga menghajar saya begitu luar biasa, bahwa saya tidak perlu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, bahwa saya sendiri yang menjalani hidup ini. Saya jadi ingat perkataan Roosevelt, "Comparison is the thief of joy." Amalia mengelaborasi perkataan Roosevelt ini dan menuliskannya, seperti menyebarkan sabda ke remaja di luar sana bahwa tiap remaja adalah spesial. Dan itu yang membuat buku ini menjadi penting dan berkesan. 

Happiness is a young-adult literature at its purest, finest, and rawest. But, its rawness that makes Happiness an authentic book without trying to preach its readers. Happiness has been such an emotional roller-coaster ride for me. And that epilogue? It's like a cherry on top of a sundae. Well written. Well done.

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Daniel Dian
AUTHOR
2 September 2015 23.55 delete

Sama-sama ^^

Saya suka sekali sama buku kakak yang ini :)

Sukses terus yaaa

Reply
avatar
3 September 2015 13.17 delete

the pretentious Pitchfork-esque review apa ya maksudnya qaqa? saya mah orang tradisional jadi gak tau maksudnya

Reply
avatar
Daniel Dian
AUTHOR
3 September 2015 16.00 delete

itu lho fi, yang pake sistem rating skala 0.0-10.0 itu wkwk...

Reply
avatar