Romansick oleh Emilya Kusnaidi

Emilya Kusnaidi
Romansick 
Gramedia Pustaka Utama
276 halaman
6.2 

Blurb
Her life was almost perfect. Pekerjaan sebagai editor di majalah fashion ternama, rekan kerja yang baik hati meskipun doyan gosip, serta dua sahabat cowok yang selalu ada ketika dibutuhkan. So what a girl could ask for more? Well, please underline the ‘almost’ part.

Audrey ‘Dre’ Kahono jatuh cinta setengah mati dengan Eren,sahabatnya––namun nggak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan hal itu. Sebuah pengakuan mendadak dari Eren membuatnya terseret dalam insiden penuh kesialan yang berujung pada serentetan drama baru; pertemuan tanpa sengaja dengan Austin yang moody setengah mati, insiden di pelataran parkir, dan belum lagi soal liburan ke Bintan yang mendadak namun berakhir mengejutkan!

Austin yang persisten mendekati Dre membuat Dre kesal tapi lama-lama suka. Nah, masalahnya, ketika Dre mulai dekat dengan cowok lain, Eren malah kelihatan uring-uringan. Belum lagi drama antara Dre dan Eren berakhir, Austin malah menambah drama baru dalam hidupnya...

Review
Saya biasanya menghindari buku-buku yang bertaburan banyak merek, seperti orang Yahudi yang menghindari orang kusta yang teriak, "Najis, najis!" di perjanjian baru. Ini sebenarnya hanya karena saya anaknya punyaself-esteem yang sangat jongkok dan membaca merek-merek yang bahkan saya tidak tahu bagaimana pronunciation-nya itu bikin self-esteem saya makin minus. Tapi saya pernah membaca cerita pendek Kusnaidi (anyway, maaf sebelumnya karena entah kenapa saya akhir-akhir suka menyebut nama orang dengan nama belakangnya dan kebiasaan ini menempel begitu saja seperti lem superadesif) di Kata Kota Kita: Kumpulan Cerpen Gramedia Writing Project. Tulisannya clean, sendu, dan agak sesuai dengan gaya cerita yang saya nikmati dan saya mesti jujur kalau saya agak lumayan tertarik buat membaca Romansick, induk dari cerita pendek di Kata Kota Kita. 

Keluhan yang sama dari beberapa buku metropop yang pernah saya baca adalah bertaburan merek-merek dan kalimat-kalimat Inggris yang sebetulnya bisa diindonesiakan (view spoiler). Entahlah. Mungkin saya yang terlalu gembel untuk menikmati metropop, tetapi saya terkadang merasa cerita-cerita metropop terasa sangat formulaik. Sewaktu saya membaca metropop punya kakak saya kira-kira enam sampai tujuh tahun yang lalu sewaktu saya masih SMP dan awal SMA (I guess, I forget how old I am now), saya enggak terlalu ambil pusing dengan keformulaikan yang ada. Tapi lama-lama saya mikir, orang Jakarta emang konflik kehidupannya begini-begini aja yah. Mungkin saya mengharapkan sesuatu yangmindblowing, misalnya seorang eksekutif muda Jakarta yang mesti memimpin sekelompok pesintas dari alien apocalypse atau apalah. Now that's what I call mindblowing. Mungkin terakhir kali saya menikmati metropop adalah sewaktu saya membaca Bellamore A Beautiful Love To Remember. Itu juga saya lupa ceritanya soal apa wkwk, tapi kalau membaca review saya, sepertinya ceritanya bagus. 

Romansick sebetulnya tidak terlalu buruk. Kusnaidi jelas pandai mengolah kalimat-kalimat dan sudut pandang orang ketiga yang digunakan terasa luwes, tidak seperti kameramen yang masih amatir. Transisi skena (wkwk, kita harus bikin petisi buat masukin skena ke KBBI) dalam Romansick lumayan mulus. Jalan ceritanya juga sebetulnya lancar. Namun, Romansick ini entah kenapa terasa hampa. Saya merasa adegan-adegan yang ada di buku ini terasa pointless dan hollow. Entah kenapa saya enggak ngerasa ada jiwa di tiap kalimat-kalimat yang Kusnaidi tulis, tapi saya tahu setiap penulis menyelipkan jiwa di setiap tulisannya, seperti Horcrux, jadi saya tahu saya yang salah. Ini termasuk buku it's-not-you-it's-me karena kalau dilihat secara sekilas Romansick ini seharusnya tidak bermasalah. Tapi mungkin entah karena saya habis membaca Jellicoe Road yang berhasil mengaduk-aduk perasaan saya dengan premis yang sederhana, saya mungkin masih hangover dan membaca Romansick membuat judgment saya jadi lumayan kabur. Mungkin juga saya mengharap lebih, tetapi sejujurnya saya lelah mendengar cerita soal cerita cinta yang tak bersambut sebelum akhirnya ia menemukan cinta yang sejati wkwk hasik. 

Yang saya suka dari Romansick adalah humor-humor urban yang dicelotehkan oleh Kelsa dan Germaine. Aneh tapi nyata, saya kadang suka salut dengan orang-orang sassy yang selera humornya seperti berasal dari dunia lain, tetapi saya suka ketawa kalau dengar lelucon orang-orang sassy.I guess we click in a bizarre way. Bukan karena saya sassy. Humor saya lebih ke humor-humor sok-sokan bego. Loh kok malah curhat. 

Orang-orang sudah menyebutkan soal kesalahan grammar dan salah tik, yang enggak akan saya bahas lagi karena bakalan membuat review saya enggak spesial. Tapi satu hal lagi yang membuat Romansick ini menyenangkan sebenernya karena ada soal Singapura-nya. Saya punya banyak pengalaman buruk di Singapura, tetapi saya juga punya banyak pengalaman menyenangkan selama tinggal di sana, dan saya enggak akan pernah menyangka saya akan punya love-hate relationship dengan negara kecil ini. Dan membaca Austin yang pernah tinggal di Ang Mo Kio mau enggak mau bikin kepala saya mengenang jalanan Singapura yang teratur, udaranya yang panas tapi anehnya bersih, orang-orang yang berjalan cepat, kereta MRT yang masih ramai hingga jam dua belas malam. 

Mungkin itu yang membuat Romansick lumayan berkesan buat orang-orang. Mungkin ada orang di luar sana yang pernah memendam rasa ke sahabatnya hingga sampai saat ini, tetapi masih belum punya keberanian untuk mengutarakannya. Mungkin ada orang di luar sana yang pernah begitu merindukan orang yang dicintainya sampai rasanya sakit. Mungkin buku ini membuat orang di luar sana mengenang kisah cinta mereka.

Previous
Next Post »